MAKALAH PSIKOLOGI AGAMA

Memahami Takabur, Munafik dan  Buta Kebenaran
Sebagai Penyakit Psikopatologi dalam Islam
Oleh: Dr. Sekar Ayu Aryani, M.A

A.  PSIKOPATOLOGI DALAM ISLAM

Pada Pendahuluan makalah ini sengaja penulis mengutip sebuah resume yang pernah penulis sampaikan beberapa saat yang lalu pada diskusi kelompok, dan terdorong untuk memberikan contoh-contoh real dalam upaya perluasan resume pada konsep-konsep pemahaman agama Islam, dalam satu kemasan pembelajaran Psikologi Agama. Namun pada makalah ini, penulis yang berlatar belakang agama Islam, merefleksikannya dalam konsep-konsep keislaman yang penulis anut dan yakini, sebagai bagian dari kontribusi pemikiran Psikologi Agama itu sendiri. Pada resume minggu lalu penulis pernah meresume kutipan sebagai berikut: “Psikopatologi dalam Islam dibagi dalam dua kategori yaitu; bersifat duniawi berupa gejala atau penyakit kejiwaan  yang telah dirumuskan dalam wacana psikologi kontemporer, kedua bersifat ukhrowi berupa penyakit akibat penyimpangan  terhadap norma-norma atau nilai-nilai moral spiritual, dan agama.
Dari American Psychiatric Association, menyebutkan lima belas jenis gangguan mental yaitu; 1. Gangguan seperti yang terjadi pada bayi seperti hambatan mental, gangguan belajar, makan, dan penyimpangan moral lainnnya, 2. Gangguan amnestik yang disebabkan fungsi otak terganggu baik secara permanen atau sementara. Hal ini disebabkan oleh penuaan, 3. Gangguan yang berhubungan dengan zat disebabkan pemakaian al-kohol yang berlebihan, 4. Skizoprenia dan gangguan psikotik lainnya yang ditandai dengan hilangnya kontak dengan realita, 5. Gangguan mood, seperti gembira secara berlebihan, depresi, elasi atau mania, 6. Gangguan kecemasan, 7. Gangguan somatoform, yaitu gangguan pada fisik, tetapi tidak ditemukan penyebab organik dan faktor psikis tampaknya berperan besar, 8. Gangguan disosiatif, yaitu perubahan sementara fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas karena masalah emosional, 9. Gangguan seksual dan identitas jenis, 10. Gangguan makan, 11. Gangguan tidur, 12. Gangguan pengendalian implus, 13. Gangguan kepribadian, 14. Gangguan buatan, 15. Gangguan pergerakan akibat medikasi, masalah relasional, penelantaran, dan masalah pekerjaan.
Dalam Islam, menurut Al-Qur’an dan Assunah, jenis-jenis psikopatologi banyak. Adapun bentuk psikopatologi itu adalah: 1. Syirik, yaitu kepercayaan, sikap, dan prilaku mendua atau lebih terhadap permasalahan-permasalah fundamental, 2. Kufur, yaitu pengingkaran diri atas kenikmatan yang diperoleh sebab pelakunya tidak tahu diri, tidak sadar dan tidak berterima kasih, 3. Nifak, menampakkan suatu yang dipandang oleh orang lain baik, padahal dalam hatinya tersembunyi kebusukan, dan kebobrokan, 4. Riya’, yaitu melakukan sesuatu karena pamrih atau pamer, 5. Ghadab, kemarah. Marah menunjukkan tingkat kelabilan kejiwaan seseorang, sebab tidak mampu mengendalikan kemarahannya. 6. Gaflah (lupa). Yaitu sengaja menghilang kan atau tidak memperhatikan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari essensi kehidupannya. 7. Waswas (mengikuti bisikan syetan), yaitu bisikan halus dari syetan yang mengajak seseorang untuk berbuat maksiyat. 8. Putus asa, yaitu hilangnya gairah, semangat, sinergi, dan motivasi hidup karena tidak berhasil menggapai sesuatu yang ia harapkan. 9. Rakus, yaitu penyakit jiwa yang selalu merasa kurang  terhadap apa yang ia miliki. 10. Tertipu, yaitu percaya atau meyakini sesuatu yang tidak hakiki dan tidak substansif. 11. Membanggakan diri, sikap congkak, sombong, dan menganggap dirinya besar, padahal keadaan sebenarnya adalah kecil. 12. Dengki. Adalah iri hati terhadap nikmat dan karunia yang dimiliki oleh orang lain. 13. Ghibah, yaitu menceritakan keburukan orang lain dan mengadu domba. 14. Hubb Dunya, cinta dunia, pelit, dan berlebihan serta menghambur-hamburkan harta benda. 15. Attamanni, yaitu keinginan yang tidak mungkin terjadi.
Dari beberapa konsep resume tersebut penulis hanya ingin mencoba mengenbangkan pemaham tentang konsep  Takabur, Munafik Buta Kebenaran
B. TAKABUR DALAN KESEHATAN MENTAL UMAT ISLAM
Salah satu penyakit yang bisa merusak tatanan sosial adalah sikap takabur yang artinya angkuh, sombong, atau menganggap orang lain tidak berharga apabila dibandingkan dengan dirinya. Sikap ini selain bertentangan dengan konsep persamaan  dan kehambaan manusia dihadapan Allah, juga menghalangi pemberdayaan untuk menghargai lingkungan, hak asasi manusia dan demokrasi.
Penyakit takabur pada intinya berhububngan dengan dua hal, pertama takabur terhadap Allah SWT. Ketakaburan ini membawa penyakit sosial berupa menyepelekan, bahkan penolakan terhadap fungsi dan eksistensi agama dalam masyarakat. Orang tersebut menganggap agama adalah penghalang dari modernisasi dan kemajuan. Perwujudan dalam masyarakat adalah sikapnya yang apriori terhadap aturan agama. Mereka beranggapan mempunyai aturan sendiri yang lebih baik. Mereka merasa hina manakala menggunakan aturan-aturan agama dalam hidupnya.
Kedua; tekabur terhadap sesama manusia. Ketakaburan ini bersifat langsung berupa prilaku sosial  yang merusak iklim kebersamaan. Sikap yang paling menonjol adalah sikap penghinaan dan menanggap remeh pendapat serta kerja orang lain, gampang menilai orang lain tidak memiliki kemampuan, cepat marah apabila ada yang menyaingi, bahkan dendam terhadap orang lain yang memperoleh kelebihan dan kesempatan .
Di antara sebab-sebab paling berbahaya yang membawa orang pada sikap takabur ialah karena merasa memiliki kekuatan dan pengaruh di masyarakat. Wujud takabur ini macam-macam, dari sikap sombong, memaksakan kehendak sampai kepada fenomena kediktatoran di berbagai  dimensi pergaulan di masyarakat.
Islam mendorong umatnya untuk memiliki kekuatan dan pengaruh selama  digunakan untuk menolong dan memberikan perlindungan terhadap orang yang lemah. Tetapi di lain fihak Allah memuji sikap rendah hati sebagaimana firman-Nya
“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang yang apabila diperingatkan dengan ayat Kami, mereka bersujud dan bertasbih serta memuji Allah. Mereka tidak menyombongkan diri”. (As-sajadah: 15)”
Dalam pergaulan berbangsa dan bernegara, kita memerlukan keluhuran jiwa untuk berendah hati satu sama lain, terlebih pada saat prihatin sekarang ini. Kesombongan dan ketakaburan hanya akan membuat bangsa semakin jauh dari kemakmuran dan kesejahteraan. Sebaliknya rendah hati dan saling menghargai dan sudi bekerja sama  akan memudahkan langkah  untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan.

C. PRILAKU MUNAFIK DALAM PANDANGAN ISLAM
Bagi orang-orang tertentu, bisa jadi mengkritik  dan memuji orang adalah semudah membalikkan telapak tangan.  Hari ini menggelar kritik dan tudingan dengan berlindung di balik kata mimbar  demokrasi. Padahal bukan tidak mungkin, di saat yang lain dia berbalik, memuji-muji tanpa merasa berslah sedikit pun.
Orang-orang yang berpidato, memberi sambutan, atau fatwa, kemudian tidak konsekuen dengan sikap dan perbuatannya, Allah murka kepadanya. Dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang berima mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Sungguh besar murka Allah kepada orang yang berkata tetapi tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya” (As-Shaf: 2-3).
Rusaknya kejiwaan seseorang lain, kehidupan tetangga, dan bahkan tatanan kehidupan ini, sudah dipastikan karena  adanya orang-orang munafik di dalamnya. Sifat munafiq yang dilakukan oleh orang-orang kecil, bisa jadi tidak memberikan dampak yang besar. Tetapi kemunafikan yang dilakukan oleh orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan, bukan saja menghancurkan masyarakatnya, tetapi akibatnya juga akan ditanggung oleh generasi yang akan datang.
Berhadapan dengan musuh mungkin kita mudah menghadapinya. Kita dapat melihat strategi dan kekuatannya. Tetapi, menghadapi orang-orang munafiq yang mungkin berada ditengah-tengah kehidupan kita sungguh sulit. Karena di bisa berwajah manis, menganggukan kepada berkali-kali tanda setuju. Berbudi bahasa santun memikat, seakan-akan mendukung dan membela kita. Padahal di hatinya, yang kelam itu, bersemayam tipu muslihat untuk menjerat dan memperangkap diri kita untuk menghabisi diri kita. Inilah orang munafiq, tipe manusia yang sangat dimurkai oleh Allah SWT.
Sifat munafiq tidak selamanya bertujuan untuk mencelakakan orang lain, walaupun akibatnya sungguh merugikan orang lain. Tetapi, kemunafikannya dipakai untuk kepentingan dirinya.  Segala cara dan pikirannya dicurahkan untuk mencari kesempatan untuk kemudian direkayasa demi mengeruk keuntungan pribadi. Apabila sifat-sifat kemunafikan sudah ada dalam tatanan budaya dan pergaulan, niscaya masyarakat tersebut adalah masyarakat yang sakit. Masyarakat yang mengidap psikopatologi kolektif. Masyarakat kehilangan keberanian untuk mengatakan bahwa yang benar itu adalah benar. Orang yang mengidap ini pada akhirnya berlindung dalam diplomasi bahasa yang mempesonakan sekaligus membingungkan.
Walaupun kita kita diminta untuk selalu waspada, bertaqwa, dan berlindung kepada Allah dari segala tipu muslihat orang yang munafiq, kitapun diminta untuk berikhtiar dalam menyaring dan jangan cepat percaya kepada orang yang fasiq tersebut; Allah berpesan dalam ayat-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka selidikilah berita itu, supaya kamu tidak menimpakan musibah pada suatu kaum karena ketidaktahuanmu sehingga kamu tidak menyesali apa yang kamu lakukan” (Al-Hujurot ayat: 6)



D. BUTA KEBENARAN
Konsep  buta terhadap kebenarana adalah fenomena yang terkadang sering kit dapatkan pada kehidupan sehari-hari. Kita sering punya persepsi terhadap suatu  fakta seperti orang-orang buta yang mempunyai pandangan berbeda-beda dalam memahami seekor gajah. Kita melihat suatu fakta  secara tak lengkap dan akhirnya menyimpulkan kebenaran  fakta itu sendiri dengan persepsi kita sendiri.
 Kita bisa memaklumi  jika persepsi orang buta terhadap gajah itu salah. Sebab mereka sebelumnya tak pernah melihat gajah, sehingga mereka membayangkangajah seuai dengan yang mereka raba.
Tapi yang aneh, banyak manusia yang melihat kebenaran sesuai dengan perepsinya, karena mereka tak mampu melihat kebenaran itu secara menyeluruh. Mereka buta terhadap kebenaran karena memang tak pernah memahami dan merasakannya. Mereka sudah tenggelam dalam kehidupan yang mereka sudah tidak tahu, tak mau tahu, dan tak menghargai kebenaran. Kelompok orang seperti inilah yang tidak tahu bahwa hitam adalah hitam dan putih adalah putih. Dalam psikilogi ketidakmampuan membedakan antara yang benar dan yang salah adalah sebuah pemyakit kejiwaan yang dapat kita fahami fenomenanya dan prilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Itulah psikoptologi dalam Islam.
Itulah sebabnya, Rasulallah Muhamad SAW, dalam sebuah haditsnya menganjurkan kaum muslimin untuk berdoa,
“Ya Allah, perlihatkan kepadaku yang benar adalah benar, dan berikanlah aku kemampuan untuk mengikutinya dan yang salah adalah salah, dan berikanlah kepadaku kekuatan agar aku mampu menghindarinya”.
Yang lebih ironis lagi, tak sedikit manusia yang membutakan diri terhadap kebenaran. Mereka tahu bahwa fakta itu benar, tetapi mereka punya kepentingan terhadap fakta itu, mereka pun berani bahkan memberi petunjuk untuk meneyembunyikan kebenarannya. Mereka inilah yang dalam al-Qur’an dikatakan menukar kesesatan sebagai petunjuk bagi hidupnya. Dan pada akhirnya Allah akan ancam dengan sebuah ancaman bahwa nanti akan dicabut kebenaran dari dalam hatinya.  Firman Allah:
“Mereka Tuli, bisu, dan buta. Mereka tak akan kembali pada jalan yang benar”. (Al-Baqoroh: 18).









KESIMPULAN

1.      Salah satu penyakit yang bisa merusak tatanan sosial adalah sikap takabur yang artinya angkuh, sombong, atau menganggap orang lain tidak berharga apabila dibandingkan dengan dirinya. Sikap ini selain bertentangan dengan konsep persamaan  dan kehambaan manusia dihadapan Allah, juga menghalangi pemberdayaan untuk menghargai lingkungan, hak asasi manusia dan demokrasi.
2.      Apabila sifat-sifat kemunafikan sudah ada dalam tatanan budaya dan pergaulan, niscaya masyarakat tersebut adalah masyarakat yang sakit. Masyarakat yang mengidap psikopatologi kolektif. Masyarakat kehilangan keberanian untuk mengatakan bahwa yang benar itu adalah benar.
3.      banyak manusia yang melihat kebenaran sesuai dengan perepsinya, karena mereka tak mampu melihat kebenaran itu secara menyeluruh. Mereka buta terhadap kebenaran karena memang tak pernah memahami dan merasakannya










DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud, , “Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda” , Jakarta. 1978
Nasution Harun, tt, “Manusia Menurut Konsep Ajaran Islam”, Lembaga Penerbitan IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Imam Al-Ghazali, Ihya Ulum Ad-Din, Cv. As-Syifa, Semarang 1994

Gazalba, Sidi, “Modernisasi dalam Persoalan: Bagaimana Sikap Islam”, Bulan Bintang, Jakarta, 1973.
Departemen Agama,  Al-Qur’an dan Terjemahnya, Mahkota Surabaya, 1989


Category Article , ,

What's on Your Mind...

Powered by Blogger.