Efektifitas penggunaan metode jigsaw learning


Penulis : -
Kode     : 032
Judul     : Efektifitas penggunaan metode jigsaw learning dalam pembelajaran pendidikan agama islam (pai)” (studi sampel di smpn 13 malang).
-------------------------------------------------
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah. Guru merupakan personel yang menduduki posisi strategis dalam rangka pengembangan  sumber daya manusia, dituntut untuk terus mengikuti berkembangan  konsep-konsep baru dalam dunia pengajaran. Menurut James B. Brow seperti yang dikutip oleh Sardiman A.M mengemukakan bahwa tugas dan peranan guru antara lain: menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa. Tugas guru dalam proses belajar mengajar meliputi tugas paedagogis dan tugas administrasi. Tugas paedagogis adalah tugas membantu, membimbing dan memimpin. Moh. Rifai mengatakan bahwa:
Di dalam situasi pengajaran, gurulah yang memimpin dan bertanggung jawab penuh atas kepemimpinannya yang dilakukan itu. Ia tidak melakukan instruksi-instruksi dan tidak berdiri di bawah instruksi manusia lain kecuali dirinya sendiri, setelah masuk dalam situasi kelas [1]

            Disinilah guru sebagai pendidik memiliki peran yang sangat besar, disamping sebagai fasilitator dalam pembelajaran siswa, juga sebagai pembimbing dan mengarahkan peserta didiknya sehingga menjadi manusia yang mempunyai pengetahuan luas baik pengetahuan agama, kecerdasan, kecakapan hidup, keterampilan, budi pekerti luhur dan kepribadian baik dan bisa membangun dirinya untuk lebih baik dari sebelumnya serta memiliki tanggung jawab besar dalam pembangunan bangsa.
            Oleh karena itu, guru harus mengetahui  bagaimana situasi  dan kondisi ajaran itu disampaikan kepada peserta didik, saran apa saja yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan belajar, bagaimana cara atau pendekatan yang digunakan dalam penbelajaran, bagaimana mengorganisasikan dan mengelola isi pembelajaran, hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut, dan seberapa jauh tingkat efektifitas, efisiennya serta usaha-usaha apa yang dilakukan untuk menimbulkan daya tarik bagi peserta didik.
            Dalam kegiatan pembelajaran terdapat dua kegiatan yang sinergik, yakni guru mengajar dan siswa belajar. Guru mengajarkan bagaimana siswa harus belajar. Sementara siswa belajar bagaimana seharusnya belajar melalui berbagai pengalaman belajar hingga terjadi perubahan dalam dirinya dari aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan yang efektif dan akan lebih mampu mengelola proses belajar mengajar, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal.
            Belajar memang bukan konsekwensi otomatis dari penyampaian informasi pada anak didik, tapi belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan dari pelajar itu sendiri. Itulah keaktifan yang merupakan langkah-langkah belajar yang didesain agar siswa senang mendukung proses itu dan menarik minat untuk terlibat.
            Mengaktifkan belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran merupakan salah satu cara menghidupkan dan melatih memori siswa agar bekerja dan berkembang secara optimal. Guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk mengoptimalkan memorinya bekerja secara maksimal dengan bahasanya dan melakukan dengan kreatifitasnya sendiri.
            Dalam pembelajaran terdapat beberapa komponen yang berpengaruh dalam proses pembelajaran pendidikan agama, yang salah satunya adalah “metode pembelajaran agama”. Apabila ditinjau dari karakteristik setiap individu dari anak didik pasti memiliki perbedaan dalam hal kemampuan siap, gaya belajar, perkembangan moral, perkembangan kepercayaan, perkembangan kognitif, social budaya dan sebagainya. Untuk itu guru harus mampu menjadikan mereka semua terlibat, merasa senang selama proses pembelajaran.

            Pendidikan agama yang dianggap merupakan suatu alternative dalam membentuk kepribadian kemanusiaan dianggap gagal. Karena pembelajaran pendidikan agama Islam yang selama ini berlangsung agaknya kurang memperhatikan terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri siswa. [2]
            Mengembangkan nilai-nilai agama pada siswa sangat tergantung pada peranan guru dalam mengelola pembelajaran. Salah satu factor yang sangat mendukung keberhasilan guru dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam adalah kemampuan guru dalam menguasai dan menerapkan metode pembelajaran.
            Metode mengajar merupakan salah satu cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh karena itu, peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar. [3]
            Dengan metode yang tepat seseorang dapat meraih prestasi belajar secara berlipat ganda. Hal itu tentu saja merupakan peluang dan tantangan yang menggembirakan bagi kalangan pendidik. Tetapi jika bangsa Indonesia terlambat mengapresiasikan berbagai temuan mutakhir dalam bidang metodologi pendidikan, maka posisi kita akan semakin tertinggal di belakang. Itulah yang disampaikan oleh Komaruddin terdapat dalam pengantar bukunya. [4]
            Metode pembelajaran yang tepat dan dapat memberikan motivasi belajar yang tinggi, dimana sangat berpengaruh sekali pada pembentukan jiwa anak. Motivasi belajar yang membangkitkan dan memberi arah pada dorongan yang menyebabkan individu melakukan perbuatan belajar.
            Guru dituntut untuk menguasai bermacam metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi dan siswa. Dalam memilih metode, kadar keaktifan siswa harus selalu diupayakan tercipta dan berjalan terus dengan menggunakan beragam metode.
            Keaktifan siswa di kelas sangat diperlukan karena proses kerja system memori sangat membantu perkembangan emosional siswa. Dalam Islam, penekanan proses kerja system memori terhadap signifikansi fungsi kognitif (aspek aqliah) dan fungsi sensori (indera-indera) sebagai alat-alat penting untuk belajar, sangat jelas. Dan Al-Qur’an bukti betapa pentingnya penggunaan fungsi ranah cipta dan karsa manusia dalam belajar dan meraih ilmu pengetahuan.
Allah berfirman dalam Al-Isra’ ayat 36 yang berbunyi:

ولا تقف ما ليس لك به علم ان السمع والبصر والفؤاد كل اولئك كان عنه مسئولا ( الإسراء : ۳٦  ( 
“Dan janganlah kamu membiasakan diri pada apa yang kamu tidak ketahui, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan daya nalar pasti akan ditanya mengenai itu…” (Q.S Al-Isra’: 36)
            Perintah belajar di atas, tentu saja harus dilaksanakan melalui proses kognitif (tahapan-tahapan yang bersifat aqliah). Dalam hal ini, system memori yang terdiri atas memori sensori, memori jangka pendek, dan memori jangka panjang berperan sangat aktif dan menentukan berhasil atau gagalnya seseorang dalam meraih pengetahuan dan keterampilan. [5]
            Dengan metode belajar aktif, siswa akan mampu memecahkan masalahnya sendiri, yang paling penting melakukan tugasnya sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki.
            Persoalannya bagaimana mengaktifkan siswa agar secara sukarela tumbuh kesadaran mau dan senang belajar, guru harus mempunyai strategi yang baik supaya pendidikan dan pengajaran yang disampaikan memperoleh respon positif, menarik perhatian, dapat dikembangkan dan terimplementasi dalam sikap yang positif  pula. Untuk mencapainya, seorang guru harus dapat memilih metode pengajaran yang menarik karena metode yang biasa diterapkan monoton hanya terfokus pada materi saja.
            Untuk meningkatkan mutu pengajaran dalam kelas, banyak factor yang harus dipertimbangkan diantaranya yaitu dalam hal penyampaian materi dari sumber melalui saluran atau media tertentu ke penerimaan siswa, sedangkan metode yang digunakan di sekolah dirasakan masih kurang menciptakan suasana kondusif dan siswa terkesan pasif. Hanya mendengarkan penjelasan guru tanpa ada respon dari siswa, sehingga yang diketahui siswa hanya tersimpan dalam memori saja, tidak diungkapkan. Penyebab dari kepasifan siswa di kelas yaitu takut salah atau tidak percaya diri dan siswa cenderung malu mengungkap pendapatnya.
            Salah satu alternative yang dapat dilakukan oleh seorang guru guna lebih mengaktifkan belajar siswa di kelas yaitu dengan menggunakan metode Jigsaw Learning. Strategi ini dapat diterapkan pada pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan dan diketahui siswa dengan membagikan bahan ajar yang lengkap. Dalam strategi ini, siswa dibagi secara kelompok, siswa dapat mendiskusikan dalam kelompok kecil. Setiap anggota kelompok kecil berusaha membuat resume untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Bentuk kelompok baru secara acak dan setiap anggota kelompok untuk saling menjelaskan resume kepada sesama anggota dalam kelompok baru tersebut sehingga diperoleh pemahaman yang utuh. [6]
            Dengan metode ini, siswa dapat bekerja atau berpikir sendiri tidak hanya mengandalkan satu siswa saja dalam satu kelompok tersebut. Karena setiap siswa dituntut dapat meresume dan dapat mempresentasikan pada kelompok yang baru.
            Berpijak pada uraian latar belakang di atas, maka perlu kiranya diadakan suatu penelitian pendidikan. Dalam hal ini, penulis ingin mengangkat satu topic yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi saat ini, yaitu: “EFEKTIFITAS PENGGUNAAN METODE JIGSAW LEARNING DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)” (Studi Sampel di SMPN 13 Malang).
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas maka dapat penulis kemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut:
    1. Bagaimana pelaksanaan metode Jigsaw Learning dalam pembelajaran PAI?
    2. Sejauh mana efektifitas penggunaan metode Jigsaw Learning dalam pembelajaran PAI?
    3. Apa factor pendukung dan penghambat penggunaan metode Jigsaw Learning dalam pembelajaran PAI?


[1] Suryasubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta), 1997, hal: 4
[2] Muhaimin, M.A, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya), 2001: hal: 168
[3] Suryasubroto, Op.cit, hal: 43
[4] Silberman M Melvin, Active Learning (101 strategies to Teach Any Subject)  (Bandung: Nusa Media), 2004, hal: ix
[5] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: RajaGrafindo Persada), 2004, hal: 86
[6] Kusrini dkk, Katerampilan Dasar Mengajar (PPL 1) Berorientasi pada Kurikulum Berbasis Kompetensi ( Fakultas Tarbiyah UIN Malang), 2005, hal: 122



===================================  
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
Anda tidak repot lagi mencari referensi.
Di jamin asli.contohmakalah



Category Article , ,

What's on Your Mind...

Powered by Blogger.